Poto Wakapolda Kepri bersama Kapolres Tpi, Tokoh adat melayu, Pemuka masyarakat dan LSM usai kesepakatan penghentian kasus Bobby Jayanto

Kepr, MetroOne.co.id. Langkah Bobby Jayanto Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Nasdem Kota Tanjungpinang menjadi salah seorang Anggota DPRD Prov Kepri terpilih sepertinya mulus tanpa ada hambatan.

Pasalnya, status tersangka kasus ujaran kebencian yang ditetapkan Polres Tanjungpinang kepadanya,. tidak lagi menjadi hambatan untuk dirinya menuju kursi Parlemen DPRD Prov Kepri. Karena kasus hukumnya telah dihentikan oleh pihak Polda Kepri.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol, S. ErLangga. Kepada MetroOne.co.id mengatakan, “Memang benar Polda Kepri telah memerintahkan Polres Tanjung pinang, menghentian Kasus Bobby Jayanto Ketua DPC Partai Nasdem Kota Tanjungpinang.

“Keputusan ini diambil, karena adanya permintaan dari para tokoh adat melayu, pemuka masyarakat, pelapor dan terlapor kepada Polda Kepri untuk menghentikan Kasus ini dengan pertimbangan menjaga keamanan dan kedamaian di Bumi Gurindam ini.

“Selain itu, Polda Kepri juga melihat adanya itikad baik dari para pemohon baik para tokoh adat, pemuka masyarakat, pelapor maupun terlapor untuk bersama sama sepakat mengakhiri perkara ini, demi menjaga keharmonisan untuk kepentingan bersama,” sebut Kabid Humas Polda Kepri, Minggu (25/8/2019)

Sementara itu, menyikapi opini yang  berkembang di masyarakat terkait penghentian kasus Bobby Jayanto. MetroOne.co.id. Coba mencari tau, apa saja pendapat masyarakat terkait persoalan ini. Dari info yang kami dapatkan beberapa masyarakat yang Pro mengatakan.

“Polda Kepri, sudah bertindak benar menghentikan kasus Bobby Jayanto tersebut. Bukan saja turut membantu mendamaikan warga, namun hal itu juga merupakan salah satu kewenangannya Polda Kepri,” tutur Bung Alfi.

“Bukan itu saja, sebelumnya Bobby Jayanto juga telah mengklarifikasi dan meminta maaf kepada semua pihak, atas ucapan pidatonya yang dianggap Rasis. Dia katakan ucapan pidatonya itu tidaklah bermaksud  menyudutkan atau menyinggung siapa siapa,” tambah Bung Alfi.

Selain itu, masyarakat yang Kontra juga menyampaikan kekecewaanya atas penghentian kasus Bobby Jayanto, oleh pihak Polda Kepri. “Memang kami tidak ingin mengintervensi langkah Polda Kepri menghentikan kasus ini. Apa lagi kita tau hal tersebut adalah kewenangannya.

Tapi, jangan sampai keputusan itu menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat Kepri terkait penegakan hukum di negeri ini. Apalagi proses kasus ini telah berjalan lumayan lama sehingga melibatkan para ahli dan disaksikan masyarakat ramai,” ungkap warga yang enggan sebutkan namanya.

Dia juga menerangkan Kasus ujaran kebencian yang menimpa Boby Jayanto, bukan hanya terjadi di Kepri saja. Ada juga yang mirip dengan penanganan kasus ini, contohnya, kasus musisi Ahmad  Dani. Jika saja seorang Ahmad Dani dapat di hukum dan dipenjara kenapa Bobby tidak.

“Saya berharap, kalau bisa Polda Kepri mencabut kembali putusan penghentian kasus Bobby Jayanto. Semua itu demi tegaknya keadilan di negeri ini. Jangan sampai rakyat Indonesia khususnya di Prov Kepri berpikir ada tebang pilih dalam penanganan kasus hukum seperti ini.

Kemudian, sudah semestinya penanganan kasus Bobby ini disamakan dengan penanganan kasus  Ahmad Dani. Sehingga dapat menjadi contoh bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya di Kepri, agar tidak ada lagi Bobby Bobby yang lain, yang berbicara seenak hati,” tegasnya.

Sampai berita ini dimuat, Bobby Jayanto belum berhasil dihubungi oleh awak media kami dan WA pun belum lagi dibalas untuk meminta keterangan dan tanggapan terkait hal ini.

(Cek Sukur)